![]() |
| Para Tim SAR yang melakukan evakuasi pencarian korban (Dok. Ist) |
MediaWarta.id - Proses pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus mengungkap fakta-fakta di lapangan.
Tim SAR menceritakan secara langsung momen saat menemukan jenazah pramugari yang menjadi korban kedua dalam insiden tragis tersebut.
Penemuan jenazah terjadi di area yang tidak jauh dari puing-puing pesawat. Lokasinya berada sekitar 100 meter dari titik kepala pesawat yang jatuh di kawasan pegunungan dengan kontur ekstrem.
Medan yang curam serta vegetasi lebat membuat proses pencarian membutuhkan ketelitian dan kewaspadaan tinggi.
Perwakilan Arei Sulsel, Saiful Malik, menjadi orang pertama yang menemukan jenazah korban. Ia menjelaskan bahwa saat itu dirinya tengah menyisir area pencarian ke arah kanan dari jalur utama.
"Jadi ditemukan sekitar jam 2 sebelum posisi titik kepala pesawat. Sekitar 100 meter," ujar Perwakilan dari Arei Sulsel Saiful Malik kepada wartawan di Posko Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Senin (19/1).
Dari pengamatan di lapangan, Saiful melihat tanda-tanda alam yang mencurigakan, seperti pohon yang rusak dan bebatuan yang pecah.
Merasa ada sesuatu yang tidak biasa, ia kemudian bergerak menelusuri lereng di sisi gunung.
Dugaan tersebut terbukti ketika ia menemukan jenazah korban sekitar pukul 14.00 WITA. Namun, Saiful tidak langsung mendekat sebelum tim SAR lainnya tiba di lokasi.
"Saya menyisir agak ke kanan, melebar ke kanan terus saya melihat ada bekas-bekas pohon terus batu yang pecah. Saya identifikasi kemungkinan ada di sini, saya agak menyisir ke lereng sebelah, ada di situ saya dapat (jenazah korban). Sekitar jam 2 lewat," jelasnya.
Setelah tim lengkap, barulah jenazah korban dipastikan berjenis kelamin perempuan. Dari ciri-ciri yang terlihat, korban tidak sepenuhnya mengenakan seragam dinas.
Korban diketahui memakai celana jeans dan sepatu kasual, sementara bagian atas masih mengenakan pakaian berlogo ATR.
Usai proses identifikasi awal, jenazah tidak langsung dievakuasi. Tim SAR harus menunggu kedatangan kantong jenazah sebelum melakukan pengemasan dan mobilisasi.
Setelah semua perlengkapan siap, evakuasi dilakukan melalui jalur utama dengan upaya maksimal, mengingat kondisi medan yang sangat berisiko.
Sementara itu, Basarnas sebelumnya menyampaikan bahwa jenazah pramugari tersebut ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Lokasi penemuan berada di tebing yang sangat terjal, sehingga proses evakuasi membutuhkan waktu lebih lama.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa posisi jenazah korban kedua berbeda dengan korban pertama yang ditemukan lebih dahulu. Korban pertama ditemukan di kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung, sementara korban kedua berada jauh lebih dalam.
Meski berada di kedalaman berbeda, kedua jenazah ditemukan masih dalam area yang sama.
Tim SAR memastikan bahwa para korban berada bersama tim penyelamat selama proses evakuasi berlangsung, sehingga tidak ada korban yang dibiarkan tanpa pengawasan.
Syafii juga mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam evakuasi adalah cuaca ekstrem serta kondisi medan yang curam.
Selain itu, tim menemukan bagian-bagian tubuh korban yang tersebar di beberapa titik, sehingga area pencarian dibagi menjadi empat sektor untuk memaksimalkan proses penyisiran.
Dengan melibatkan banyak personel dan potensi SAR, pencarian dan evakuasi terus dilakukan secara bertahap.
Pihak Basarnas berharap seluruh proses berjalan lancar dan para korban dapat segera dievakuasi dengan aman untuk diserahkan kepada pihak berwenang dan keluarga.

0 Komentar