![]() |
| Kemacetan yang terjadi di Pelabuhan Gilimanuk (Dok. Ist) |
MediaWarta.id - Kemacetan panjang yang sempat terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk kini mulai berangsur membaik. Antrean kendaraan yang sebelumnya mencapai lebih dari 30 kilometer, saat ini dilaporkan telah berkurang cukup signifikan.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyebut kondisi ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah. Menurutnya, peristiwa tersebut memberikan pelajaran berharga dalam pengelolaan arus kendaraan, terutama di jalur penyeberangan vital yang menghubungkan Pulau Bali dan Jawa.
Ia menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir antrean kendaraan berhasil dipangkas dari sekitar 20 kilometer menjadi kurang lebih 8 kilometer. Hal ini tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan secara bersama oleh sejumlah pihak terkait.
Untuk mengurai kepadatan, pemerintah bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Korlantas Polri, serta PT ASDP Indonesia Ferry sebagai operator penyeberangan.
Sejumlah langkah strategis telah diterapkan, seperti pengoperasian kapal berkapasitas besar, penambahan jumlah armada hingga 35 kapal, serta optimalisasi area penampungan sementara atau buffer zone.
"Kita bekerja mencari solusi dan memitigasi terhadap kondisi di lapangan dan ini bisa jadi pelajaran agar ke depannya tidak terjadi lagi kepadatan di Gilimanuk. Saya sangat menghargai apa yang sudah dilakukan sehingga dalam beberapa hari kemacetan yang sampai 20 kilometer bisa mulai teratasi. Sekarang antrean kendaraan sepanjang 8 kilometer," jelas Dudy dikutip Rabu (17/3).
Selain itu, diterapkan juga sistem tiba-bongkar-berangkat (TBB) pada sebagian kapal untuk mempercepat proses bongkar muat.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap arus lalu lintas dapat kembali normal dalam waktu dekat, terutama menjelang perayaan Hari Raya Nyepi.
"Dengan dilakukannya langkah-langkah tersebut harapannya terjadi pengurangan kepadatan serta arus lalu lintas bisa berjalan normal kembali dan kepadatan bisa terselesaikan sebelum Hari Raya Nyepi," ungkap Menhub Dudy.
Meski kondisi mulai membaik, kepadatan masih dipengaruhi oleh banyaknya kendaraan logistik berukuran besar yang tetap beroperasi. Padahal, selama periode angkutan Lebaran, terdapat pembatasan terhadap kendaraan barang dengan sumbu tiga atau lebih.
Keberadaan truk besar ini dinilai turut memperparah antrean di sekitar kawasan pelabuhan. Oleh karena itu, pemerintah mengimbau para pelaku usaha logistik untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga menyiapkan skenario tambahan apabila masih ada kendaraan yang belum bisa menyeberang menjelang Nyepi.
Dalam skema tersebut, kendaraan kecil dan bus akan diprioritaskan untuk menyeberang karena membawa lebih banyak penumpang. Sementara itu, kendaraan besar seperti truk akan diarahkan ke area penampungan sementara.
Para sopir truk nantinya akan difasilitasi untuk menyeberang ke Banyuwangi tanpa biaya tambahan, termasuk penyediaan akomodasi selama menunggu operasional penyeberangan kembali normal.
Tak hanya di Bali, pengaturan juga dilakukan di sisi Jawa, tepatnya di Pelabuhan Ketapang. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk mencegah penumpukan kendaraan saat arus dari Bali kembali meningkat.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan jalur tol fungsional dari kawasan Besuki. Selain itu, beberapa buffer zone juga disiapkan sebagai tempat istirahat sekaligus untuk menahan laju kendaraan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap arus mudik dan mobilitas kendaraan di jalur penyeberangan ini dapat berjalan lebih lancar ke depannya.

0 Komentar