Apa Itu Upacara Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa? Ini Makna dan Tata Caranya

Apa Itu Upacara Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa? Ini Makna dan Tata Caranya
Tradisi siraman yang dilakukan sebelum akad nikah (Dok. Ist)


MediaWarta.id - Apa itu upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa sering menjadi pertanyaan bagi kamu yang ingin memahami rangkaian tradisi pernikahan Jawa secara lebih mendalam. 

Siraman merupakan salah satu prosesi penting yang dilakukan sebelum hari pernikahan, tepatnya sehari sebelum acara panggih atau temu pengantin. 

Tradisi ini bukan sekadar mandi biasa, melainkan memiliki makna spiritual, simbolik, dan filosofi yang sangat dalam.

Apa Itu Upacara Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa?

Upacara Siraman berasal dari kata Jawa “siram” yang berarti mengguyur atau memandikan. 

Dalam konteks pernikahan adat Jawa, Siraman adalah prosesi memandikan calon pengantin dengan air yang telah diberi bunga sebagai simbol penyucian diri.

Pada masa lalu, tradisi ini hanya dilakukan di lingkungan keraton atau kalangan bangsawan. Namun seiring waktu, masyarakat umum kini juga dapat melaksanakan upacara Siraman sebagai bagian dari rangkaian pernikahan adat Jawa.

Biasanya, Siraman dilakukan pada siang hari, antara pukul 10.00 hingga 15.00 WIB, sehari sebelum prosesi panggih. 

Beberapa keluarga memilih waktu sekitar pukul 11.00 WIB karena dipercaya sebagai waktu yang baik dan penuh berkah.

Yang menyiram calon pengantin biasanya adalah orang tua dan para sesepuh yang dihormati. Jumlah penyiram umumnya ganjil, seperti 5, 7, atau 9 orang. 

Angka ganjil dipercaya membawa keberkahan dan keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga.

Tujuan Dilaksanakannya Upacara Siraman

Upacara Siraman bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi memiliki tujuan yang sarat makna. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan doa kepada Tuhan agar kedua mempelai mendapatkan berkah dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Selain itu, Siraman juga melambangkan proses membersihkan diri dari hal-hal buruk, baik secara lahir maupun batin. 

Dengan tubuh yang bersih dan pikiran yang tenang, diharapkan kamu yang akan menikah dapat memulai kehidupan baru dengan kesiapan mental dan spiritual.

Makna lain dari Siraman adalah menyegarkan tubuh dan jiwa sebelum memasuki fase kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.

Perlengkapan yang Digunakan dalam Upacara Siraman

Dalam tradisi Siraman, terdapat berbagai perlengkapan khusus yang digunakan. Setiap benda memiliki makna simbolis tersendiri. Berikut beberapa perlengkapan utama dalam upacara Siraman:

1. Air Bersih

Air menjadi unsur utama dalam Siraman. Biasanya diambil dari sumber yang bersih, seperti sumur keluarga. Air melambangkan kesucian dan harapan agar pengantin memiliki kehidupan yang bersih dan penuh kebaikan.

2. Kembang Setaman

Kembang setaman merupakan campuran beberapa bunga seperti mawar, melati, kenanga, dan bunga kantil. Bunga-bunga ini dimasukkan ke dalam air Siraman sehingga menghasilkan aroma harum yang melambangkan keindahan dan keharmonisan rumah tangga.

3. Konyoh Manca Warna

Konyoh adalah lulur tradisional yang terbuat dari tepung beras dan kencur, lalu diberi berbagai warna. Lulur ini digunakan untuk membersihkan kulit sekaligus melambangkan kecantikan dan kesegaran.

4. Landha Merang

Landha merang adalah ramuan tradisional dari abu batang padi yang digunakan sebagai shampo alami. Bahan ini dipakai untuk membersihkan rambut calon pengantin.

5. Santan dan Banyu Asem

Santan digunakan untuk merawat rambut agar tampak hitam dan sehat. Sementara itu, banyu asem berfungsi sebagai kondisioner alami.

6. Dua Kelapa Tua

Kelapa yang diikat menjadi satu melambangkan persatuan dan kebersamaan antara kedua mempelai dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

7. Kendhi

Kendhi adalah wadah air yang digunakan pada bagian akhir prosesi. Setelah air habis digunakan, kendhi akan dipecahkan sebagai simbol berakhirnya masa lajang.

8. Kain dan Alas Duduk

Calon pengantin duduk di atas alas khusus berupa tikar pandan yang dilapisi kain tertentu. Kain yang digunakan biasanya memiliki motif dan warna yang mengandung doa serta harapan baik.

Selain perlengkapan utama, terdapat pula berbagai sesaji seperti tumpeng, jajanan tradisional, pisang, telur, dan aneka makanan lain yang memiliki makna simbolis dalam kehidupan rumah tangga.

Tata Cara Pelaksanaan Upacara Siraman

Secara umum, pelaksanaan upacara Siraman terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan secara berurutan.

1. Penyiapan Air Siraman

Air dimasukkan ke dalam wadah khusus yang disebut pengaron. Ke dalam air tersebut ditambahkan kembang setaman dan dua buah kelapa yang telah diikat.

2. Pengantin Menuju Tempat Siraman

Setelah mengenakan busana khusus, calon pengantin akan diantar oleh orang tua menuju tempat Siraman. Prosesi ini biasanya dilakukan dengan penuh khidmat dan diiringi doa.

3. Prosesi Penyiraman

Sebelum penyiraman dimulai, dilakukan doa bersama. Setelah itu, orang tua dan para sesepuh akan menyiramkan air ke tubuh pengantin secara bergantian. Biasanya, setiap penyiram mengguyur air sebanyak tiga kali.

4. Pembersihan Rambut dan Tubuh

Setelah disiram, pengantin akan dibersihkan menggunakan bahan tradisional seperti landha merang, santan, dan konyoh. Kemudian tubuh kembali disiram hingga bersih.

5. Penggunaan Air Kendhi

Pada tahap ini, air dalam kendhi digunakan untuk membersihkan bagian tubuh tertentu. Setelah air habis, kendhi akan dipecahkan sebagai simbol berakhirnya prosesi Siraman.

6. Kembali ke Kamar Pengantin

Setelah seluruh rangkaian selesai, pengantin kembali ke kamar untuk mengeringkan tubuh dan mempersiapkan prosesi selanjutnya, seperti ngerik dan midodareni pada malam harinya. 

Memahami apa itu upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa membantu kamu melihat bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi sarat dengan nilai spiritual, budaya, dan harapan baik. 

0 Komentar


Dapatkan Informasi Terkait Berita Indonesia Terkini dan Terupdate Tahun Ini , trending, serta terpopuler hari ini dari media online MediaWarta.id melalui platform Google News